Belajar Mengatasi Hooligan dari Sepak Bola Eropa

Mengatasi kerusuhan yang disebabkan suporter adalah pekerjaan sulit. Bukan hanya sekedar menjaga keamanan dan ketertiban puluhan hingga maksimal ratusan ribu penonton dalam stadion, juga mereka yang jumlahnya lebih dan tak tertampung di dalam stadion.

Gesekan antarsuporter–apalagi yang sedang bertanding–akan mudah tercipta ketika ada yang merangsangnya. Namun, bagaimana menghentikan aksi itu agar tak meluas atau menjadi buruk.

Sepak bola Eropa yang lebih mapan dalam penyelenggaraan keamanan dalam kejuaraan mempelajarinya dari tragedi yang terjadi di Heysel maupun Hillsborough pada paruh akhir dekade 1980an.

Inggris adalah satu-satunya negara yang pernah menerima larangan mengirim klub di turnamen resmi internasional.

Larangan itu berlaku sejak 1985 hingga 1990, dikeluarkan sesudah Tragedi Heysel yang menewaskan 39 suporter dalam final Piala Champions [sekarang Liga Champions] antara Liverpool dan Juventus.

Sanksi itu membuat Inggris berbenah untuk mengatasi keamanan para suporter sepak bola dan mencegah kerusuhan yang mungkin disebabkan pendukung garis keras.

Inggris memang dikenal dengan pendukung garis keras klub yang brutal. Mereka sering disebut Hooligan.

Aksi-aksi brutal hooligan mulai berkurang sejak periode 1990-an silam. Perbaikan pengamanan stadion, perlakuan terhadap suporter, hingga pembuatan regulasi baru untuk pendukung sepakbola dilakukan sebagai upaya mengikis keberadaan hooligan.

Berdasarkan laporan Social Issues Research Centre (SIRC) dalam situs resminya, salah satu cara menekan keberadaan hooligan adalah membiarkan aparat keamanan melakukan penyusupan ke barisan suporter sebuah klub.

Petugas harus bergerak cepat untuk menangkap suporter yang diduga provokator. (REUTERS/Yves Herman)
Asosiasi Sepakbola Inggris disebut pernah merekomendasikan keberadaan polisi berbaju sipil di tengah-tengah suporter. Aparat tersebut bertugas mencari hooligan atau provokator.

Metode penyusupan polisi ke tengah-tengah barisan suporter terbukti efektif. SIRC melaporkan, banyak penggerebekan yang akhirnya dilakukan polisi terhadap para hooligan usai penyusupan dilakukan pada awal 1986.

Penekanan jumlah provokator memegang peran penting. Sebab, tanpa keberadaan mereka potensi terjadinya rusuh dalam laga sepakbola akan mengecil.

Selain melakukan infiltrasi, perbaikan juga dilakukan pada aspek pengamanan stadion.

Pada periode 1970-1980an silam, para suporter tim tamu di Inggris disebut harus masuk ke dalam stadion menggunakan jalur khusus dan terpisah dari para fan kesebelasan tuan rumah. Keberadaan mereka di stadion juga dibatasi pagar-pagar tinggi yang mengelilingi.

Selain disediakan jalur dan tempat khusus, suporter tamu juga kerap mendapat penjagaan ketat dari polisi. Hal tersebut diyakini berpengaruh terhadap aspek psikologis para suporter.

Keadaan tersebut untungnya tidak bertahan lama. Sejak periode 1990-an, Otoritas Sepakbola Inggris memutuskan pengamanan di stadion menjadi tugas dan tanggung jawab steward.

Penggunaan steward menggantikan peran polisi dalam stadion. Mereka memiliki hak untuk mengeluarkan suporter yang melanggar peraturan di dalam stadion. Namun, keberadaan mereka independen dari lembaga kepolisian di Inggris.

Barisan steward pun akan ditempatkan sebagai pagar betis yang memisahkan antara suporter dua kubu di dalam stadion.

Selain memberdayakan steward, FA Inggris juga mulai giat menyebar penggunaan kamera pengawas (CCTV) sejak pertengahan 1980an. Teknologi canggih digunakan untuk mempermudah pengawasan terhadap suporter di stadion.

Terakhir, sebuah regulasi khusus untuk suporter akhirnya lahir pada 1989. Regulasi bernama Football Spectators Act (FSA) itu mewajibkan seluruh suporter di Inggris memiliki kartu keanggotaan dari klub yang mereka dukung.

Kartu identitas suporter diwajibkan untuk mencegah adanya provokator yang masuk ke stadion kala pertandingan tengah berlangsung.

Selain itu, FSA juga mengatur keberadaan Badan Otoritas Lisensi baru yang bertugas memberi, atau mencabut izin sebuah stadion guna menyelenggarakan pertandingan sepakbola. Kewenangan besar diberikan kepada Badan Lisensi agar tak ada lagi stadion yang tingkat keamanannya rendah di tanah Inggris.

Demi menyiasati keberadaan peraturan itu, klub-klub Liga Inggris pun akhirnya membenahi stadionnya sejak 1990an silam. Alhasil, saat ini tak ada lagi stadion yang masih mempertahankan keberadaan pagar pembatas tinggi, maupun tak memiliki fasilitas tempat duduk bagi suporter.

Bagaimana dengan pengamanan di luar stadion? Contoh terakhir ada di Perancis. Pada awal digelarnya kejuaraan Piala Eropa 2016 sempat diwarnai kerusuhan antara suporter Rusia dan Inggris.

Di luar stadion, posisi pasukan keamanan amat penting untuk memecah massa yang mencoba rusuh dan menangkap provokator. Setelah itu, para suporter yang terlibat kerusuhan pun dihukum keras termasuk di antaranya tak boleh datang ke stadion seumur hidup.

Be the first to comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*