Bermalam dan Menyantap Pecel Lele di Apartemen Evan Dimas

evan dimas 02

Waktu Evan Dimas mencetak gol perdananya di Malaysia, fans sepakbola Indonesia pasti senang mendengarnya. Kami sungguh beruntung pernah bermalam di apartemen dia di Selangor.

Keberuntungan kami itu terjadi hampir sebulan lalu, Sabtu dan Minggu, 24-24 Februari 2018. Di pekan keempat Liga Super Malaysia itu Selangor FA dijadwalkan bertanding melawan Pahang FA, sedangkan Kedah FA berduel dengan PKNS FC.

Awalnya kami mengontak Evan dan Andik Vermansah, yang musim ini pindah ke Kedah, setelah sukses bersama Selangor. Saya utarakan rencana menyaksikan permainan dia di weekend tersebut, berharap bisa “dijamu” lagi oleh pemain timnas Indonesia jebolan Persebaya Surabaya itu.

“Kita tunggu di Selangor, Mas,” demikian sambutan beberapa kawan saya dari Aliansi Suporter Indonesia di Malaysia, ketika tahu kami ingin melancong ke Negeri Jiran untuk menonton aksi Andik, Evan, dan Ilham Udin Armaiyn, yang juga bermain untuk Selangor FA.

Bersama sahabat saya, Mas Haryono, dan anak laki-laki saya, Jova, Sabtu pagi kami bertolak ke Kuala Lumpur dari Jakarta. Setelah istirahat sejenak di hotel, sorenya kami langsung merapat ke Stadion Cheras. Terasa betul antusiasme penyokong Selangor FA, yang hari itu bertindak sebagai tuan rumah. Mereka optimistis musim ini akan menuai hasil yang lebih baik dibanding musim lalu — finis di peringkat keenam di Liga Super. Selain Evan dan Ilham, mereka juga merekrut bek Brasil yang sebelumnya memperkuat Persija Jakarta, William Pacheco, serta gelandang bertahan asal Spanyol, Alfonso de la Cruz.

Evan tampil sebagai starter, mengenakan kostum bernomor 6, sedangkan Ilham duduk di bangku cadangan karena baru pulih dari cedera. Ilham baru dimainkan di menit ke-33, menggantikan De la Cruz, dan berkontribusi besar dalam terciptanya gol Selangor melalui titik penalti yang dieksekusi Ruvino Segovia. Sayangnya, Selangor menelan kekalahan 1-3 dari Pahang. Namun saya merasa puas dan senang karena dapat melihat langsung penampilan dua pemain muda masa depan Indonesia itu.

Besok siangnya kami menuju apartemen Evan yang berjarak hanya 1 kilometer dari Stadion Shah Alam. Evan dengan senang hati menyambut rencana kami. Di sana kami juga bersua dengan Mas Renski, warga Indonesia yang sedang kuliah S2 di Selangor, dan dia menetap di apartemen yang sama dengan Evan. Ilham sempat menemani kami namun tidak lama, karena dia ada keperluan lain.

“Nginap di sini saja, Mas,” ucap Evan kepada kami. Duh, tidaklah mungkin tawaran selangka ini kami tolak. Kapan lagi bisa tidur bareng, eh, menginap, di kediaman bintang timnas Indonesia. Apalagi si empunya rumah baik banget. Suguhan istimewa yang dia hidangkan pada kami adalah durian musang king, yang amat terkenal kelezatannya di Malaysia.

Selepas isya kami dijemput Cak Minul, bonek yang sudah bertahun-tahun tinggal di Malaysia dan juga anggota Red Giant, kelompok suporter Selangor FA. Kami memang berniat menonton timnya Andik yang melawat ke markas PKNS FC di Shah Alam. Evan batal ikut karena masih “trauma” dengan kekalahan timnya tadi malam. Puk-puk-puk.

Andik jadi starter, dipasang sebagai second striker. Dia mendapat peran free role dan kerap berubah-ubah posisi ke kanan, tengah, maupun kiri. “Andik, Andik, Andik,” namanya terus diteriakkan oleh pendukung “Helang Merah”, julukan Kedah FA.

Andik malam ini bermain bagus, pergerakan tanpa bola dan passing-nya akurat. Sang striker utama, Liridon Krasniqi (asal Albania), dimanjakan dengan umpan-umpan menusuk ke kotak penalti. Krasniqi di laga itu mencetak dua gol, Kedah menang 4-3.

Seusai pertandingan Andik menghampiri kami dan melakukan ritual itu: selfie bareng. “Terima kasih, Cak,” ujar dia kepada kami sewaktu bertemu lagi di luar stadion, sebelum dia melayani permintaan foto dari sejumlah suporter. Alhamdulillah, saya pun dapat tanda tangan dia dengan jersey Kedah-nya. Andik meminta maaf tidak bisa gabung nongkrong dengan kami karena harus segera kembali ke Kedah.

Sungguh malam yang penuh kesan dan menyenangkan. Tambahan lagi, sekembalinya ke apartemen Evan, kami mendapat servis yang luar biasa dari sang tuan rumah. Evan rupanya sudah menyiapkan pecel lele dan ayam goreng ala Lamongan untuk kami santap sepulangnya dari stadion. Wah, ini sih makanan kita banget! Maka kami semua menyikat habis menu istimewa itu dengan suka cita, dalam suasana yang penuh keakraban.

Keesokan paginya kami berpamitan dengan Evan, karena harus kembali ke Jakarta. Terima kasih, Evan, Ilham dan Andik. Semoga karier kalian di sana terang benderang. Kami tunggu aksi-aksimu pula bersama timnas Indonesia.

Be the first to comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*